Minggu, 02 Agustus 2015

Aktivitas Ekonomi Cina Mindering di Pedesaan Jawa


Ketika masa Liberal berlangsung, devisa yang didapat dari perdagangan ekspor telah menutup seluruh kas Hindia Belanda bahkan menjadi surplus. Hal ini membuat negara jajahan menaikkan cost pengeluarannya dari 667 juta gulden pada tahun 1924 menjadi 903 juta gulden di tahun 1929. Tetapi kemakmuran yang didapatkan tidak memiliki dasar yang kuat. Ketika tahun 1926 produksi di Hindia Belanda terus meningkat, sedangkan pasaran dunia mulai menyusut. Hal ini dikarenakan masuknya produksi gula bit dari India dan meningkatnya produksi gula di Jepang di tahun yang sama. Sejak tahun 1926 harga gula terus menurun, disusul harga timah dan karet. Pada tahun 1930 terjadi gagal panen yang skalanya luas, ditambah pula dengan krisis yang terjadi di Wallstreet. Hal ini membuat jatuhnya harga produk pertanian Hindia Belanda, sedangkan barang impor tetap pada level harga yang sama sebelum krisis. Posisi yang tidak seimbang ini membuat harga-harga menjadi melambung tinggi dan inflasi tak terkendali. Meskipun barang-barang impor Jepang lebih murah, akan tetapi tetap saja harganya masih terlalu tinggi di dalam koloni jajahan.
Tahun 1930 menjadi tahun malapetaka yang membuat kesejahteraan masyarakat di Hindia Belanda tergoncang. Orang Eropa yang terbiasa hidup mewah tiba-tiba harus jatuh miskin. Harta benda mereka diambil oleh pegadaian untuk menutupi utang usaha mereka atau untuk mengganti pengeluaran dari gaya hidup mereka yang bermewah-mewahan. Akhir tahun 1932, tercatat ada 5.520 orang Eropa dan Indo-Eropa yang menjadi pengangguran. Orang-orang pribumi juga tidak kalah sengsara. Meski tanah mereka dikembalikan oleh perkebunan dan dapat ditanami kembali oleh padi, akan tetapi di saat yang sama kuli-kuli dari luar pulau Jawa kembali yang pada hakikatnya juga butuh makan. Oleh karena itu, makanan yang diterima sama saja bahkan lebih sedikit dari masa sebelumnya. Sedangkan di kantong orang pribumi tak ada satupun uang yang dipegang, sehingga mau tidak mau mereka harus menjual barang-barang mereka atau meminjam uang.
Sedangkan posisi orang Cina sendiri juga mengalami masa sulit. Akan tetapi tidak membuat mereka terguncang dan semuanya kembali normal. Hal ini dikarenakan orang-orang Cina masih menyimpan modal-modalnya, sehingga mereka masih bisa bangkit kembali. Para pengusaha Cina yang bermodal inilah yang banyak memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan bunga-bunga tertentu. Selain itu juga muncul orang-orang Cina totok yang sebelumnya berjualan eceran menjadi pedagang yang sekaligus menjadi pemberi kredit pada masyarakat desa. Mereka ini sering dikenal dengan sebutan Cina Mindering, Singkeh Mindering dan Tukang Mindering.
Sampai tahun 1930, sensus menunjukkan sekitar 5.336 orang Cina di Jawa memiliki pekerjaan sebagai peminjam uang (selanjutnya akan disebut Mindering). Suatu hal yang menarik bahwa mayoritas para Mendering ini adalah orang-orang Cina totok, terutama klan Hokchia. Orang Cina totok ini cenderung di pedalaman atau pedesaan karena terkait ekonomi mereka yang masih kecil. Meskipun ada beberapa kaum Hokchia yang melakukan bisnis di perkotaan tetapi daerah-daerah pedesaanlah yang menjadi wilayah operasi bisnis mereka. Dengan dibekali sepeda, bahan-bahan pokok bermutu rendah dan beberapa uang, mereka berkeliling desa dan menawarkan barang dagangan, dijual secara kontan maupun cicilan sekaligus peminjaman sejumlah uang dan pada sore harinya mereka kembali. Dalam pengumpulan modalnya mereka melakukan patungan atau pengumpulan uang (hui) dari masing-masing anggota, anggota terdiri dari 10 hingga 30 orang. Sistemnya sama dengan arisan pada masa sekarang. Setiap bulan mereka mengumpulkan modal. Siapa yang menjadi pemegang modal ditentukan oleh lotre.
Kegiatan para Mindering ini terkait langsung oleh para petani di pedesaan-pedesaan dan bidang pertanian, biasanya akan diakhiri dengan penyitaan lahan atau tanah persawahan jika utang tidak dapat dibayar. Di sisi lain, si Mindering ini juga dapat bertindak sebagai seorang pengusaha dimana petani biasa menjual hasil panen mereka. Dalam beberapa kasus, hasil sawah seringkali dijual sebelum masa panen tiba, seperti sistem ijon. Banyak sekali situasi dimana para pemberi pinjaman ini mau memberikan pinjaman kepada petani. Sebenarnya beberapa orang yang memberi pinjaman bisa disebut ilegal dan bertentangan dengan hukum.
Dampak dari krisis yang terjadi tahun 1930 sangat mempengaruhi kehidupan petani-petani di desa. Faktor penyebab yang menambah penderitaan masyarakat pedesaan mungkin saja karena kegiatan para tukang kredit-kredit ini. Mereka dianggap sebagai lintah darat oleh masyarakat pribumi, akan tetapi mereka tidak kuasa ketika kenyataannya mereka harus meminjam lagi dan lagi kepada para peminjam uang ini. Pengenalan sistem uang pada abad 19 tidak menjadi tolak ukur dalam pemahaman masyarakat desa mengenai spekulasi di bidang moneter. Hal ini yang memudahkan mereka menjadi mangsa bagi singkeh Mindering ini.
Tidak lagi menjadi hal aneh ketika pada akhirnya bunga pinjaman bisa berlipat sampai 700% per tahunnya, meskipun awalnya para petani hanya meminjam beberapa gulden saja. Para tukang Mindering ini tidak membatasi kegiatannya pada lingkup petani pedesaan saja, tetapi mereka juga merambah pada lingkup kepala-kepala desa dan pejabat lokal. Bahkan pada tahun 1924, keluarga bangsawan Solo telah banyak terjerat oleh para kreditur-kreditur ini. Selain itu korban mereka juga para orang-orang Eropa di daerah perkotaan. Ketika kemewahan menjadi gaya hidup, maka mereka mencari jalan pintas meminjam uang dengan bunga yang sangat tinggi dan terbiasa menggadaikan sertifikat tanahnya.

Bagaimanapun juga hubungan antara si peminjam dan yang dipinjami tidak akan berakhir sebelum hutangnya lunas. Kontak ini biasanya bersifat open-ended, karena hubungan ini akan terus berlangsung lama dan berkelanjutan. Berbeda dengan klan lain yang lebih bersifat dead-end atau hanya sebatas pembeli dan penjual dan berlangsung kontak seketika. Meskipun sifat antagonis sering melekat pada klan Hokchia, akan tetapi lewat produk perdagangan dalam bentuk kredit inilah interaksi antar etnis dapat berlangsung didalamnya.