Jumat, 20 Desember 2013

Malioboro



berjalan di tengah lalu lalang manusia berbagai rupa,
sejenak ku berhenti di sudut stasiun kota,
sedang mobil-mobil terus saja menggerus jalanan perlahan,

ku berjejer dan bergumul di antara manusia-manusia bersila,
kuambil secangkir kopi arang dari penjaja, kuteguk pelan, sangat pelan. . .
seraya menikmati arak-arakan awan yang bergelayut di langit senja, 

kaki kembali melangkah, menyusuri aspal yg mulai terkoyak,

di garis horison sana samar-samar klakson kereta terdengar seiring tiup panjang peluit penjaga,
ku berlari,
seolah maut ingin menyongsongku,

sesampainya diseberang sana, tampak detak kehidupan semakin terasa,
semakin cepat. . .
jalan tak berujung,
barisan toko tua,
kerlip lampu kota,
derum mesin kendaraan,
langkah perlahan kerumunan manusia,
kumpulan barang si penjaja,
teriak tawar menawar,
suara panjang peluit parkir,
gemrincing lonceng kereta kuda,
menyatu menjadi sebuah mozaik kehidupan yang bernadi dan berdetak,
begitu hidup. . .
begitu nyata. . .