Jumat, 20 Desember 2013

Trem "Bodjong Express" Semarang

Moda transportasi di Semarang pada masa penjajahan Belanda telah tergolong maju. Pada tahun 1930an, Semarang telah memiliki trem sebagai sarana transportasi dalam kota, sedangkan di kota-kota lain di Hindia Belanda belum memilikinya. Trem melewati rute Jomblang-Bulu dengan stasiunnya (Stasiun Sentral) di daerah Jurnatan (sekitar pasar Johar sekarang). 

Rute trem Bodjong Express ini dimulai dari Stasiun Sentral menuju Jomblang, tarifnya sekitar 2 sen. Setelah itu, trem kembali lagi ke Stasiun Sentral lalu melewati Alun-alun Semarang (sekitar pasar Johar) dan sepanjang Jalan Bodjong (Jalan Pemuda sekarang). Trem juga melewati depan gedung Netherlandsch Indische Spoorweg Maschaappij (Gedung Lawang Sewu sekarang) menuju ke Bulu sebagai tujuan akhir.

Bagi masyarakat luas, trem menjadi moda angkutan kota yang mengasyikkan, karena bisa digunakan untuk piknik keliling kota Semarang. Saat lebaran tiba, banyak anak kecil berebut naik trem seharian penuh, karena waktu itu, naik trem menjadi semacam "tradisi" layaknya membunyikan mercon. Sambil berkelilig naik trem, sesekali mereka melemparkan petasan di jalanan. Jika ada petasan yang mengenai orang di jalan, saat itu juga anak-anak kecil ini tertawa kegirangan. Sudah barang tentu, orang yang terkena lemparan petasan itu hanya bisa memaki-maki. 

Namun sekarang, rel di sepanjang jalur Jomblang-Bulu sudah tidak kelihatan lagi. Banyak rel yang hilang entah kemana atau bahkan tertutup jalan aspal. Hal ini dampak dari perintah Soekarno yang menyerukan tentang penghapusanatau menghilangkan warisan-warisan Belanda yang berunsur kolonialisme dan imperialisme.