Kamis, 19 Desember 2013

Mengungsi dari Merapi

     Sedikit aku ingin berbagi reportase ala pemulung, ketika Gunung Merapi meletus sekitar tiga tahun lalu, mungkin kita sudah lupa atau tidak tahu, tapi bagi masyarakat Yogya terutama di lereng Gunung Merapi, keadaan itu tak lantas tergerus memorinya, dan inilah kisahku dari sudut pandang "orang luar". . .



     Yogyakarta dirundung bencana yang datang silih berganti. setelah gempa di laut selatan yang meluluhlantakkan pada 2006, 3 tahun kemudian berganti "penunggu Merapi" unjuk gigi. Gunung Merapi tiba-tiba meletus, diluar prediksi manusia, bahkan "orang pinter" mulai dari Mbah Maridjan (abdi dalem penunggu merapi) sampai Pak Surono (BMKG). Bencana ini berlangsung selama berbulan-bulan lamanya. Tidak hanya menelan korban jiwa semata, tapi juga telah menghancurkan harta benda masyarakat lereng Merapi. Pemerintah daerah Yogyakarta yang melihat dampak bencana semakin besar, mulai mengerahkan relawan-relawan untuk membantu pengungsi. Mereka yang menjadi korban bencana diungsikan sekitar 15 km dari Gunung Merapi, dan menempati pos-pos pengungsian mulai dari kantor kecamatan, stadion, hingga universitas-universitas. Letusan Merapi yang kedua lebih dahsyat, abunya telah mencapai 20 km lebih. Oleh karena itu, para pengungsi dipindahkan ke tempat diluar titik rawan. Suasana kota Yogyakarta, terutama di daerah Kabupaten Sleman semakin tidak kondusif hingga memaksa universitas-universitas besar di wilayah ini meliburkan mahasiswanya hingga dua minggu lamanya.




Merapi Meletus
(manusi4biasa.wordpress.com)


     Ketika aku mengetahui pengumuman tersebut terbesit keinginanku untuk pulang ke Semarang, sebab situasi di kota ini sangat tidak kondusif. Kegiatan masyarakat seolah mati dan jalanan terasa sangat lengang, penduduk tidak mau keluar rumah jika tidak terpaksa, sebab mereka takut terkena penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh abu vulkanik. Keinginan untuk pulang pun sempat terkendala akibat tugas kuliah yang belum terselesaikan. Setelah mendapat kompensasi dari dosen, hari kamis aku putuskan untuk pulang bersama 4 orang teman.

          Selama di perjalanan, kami harus benar-benar menutup hidung, mulut serta mata supaya tidak kemasukan debu vulkanik. Jalanan menjadi tidak terlihat karena terlalu banyaknya debu yang berterbangan, hingga mobil-mobil maupun kendaraan bermotor harus menghidupkan lampunya jika tidak ingin bertabrakan dengan kendaraan lainnya. Akan tetapi, tidak semua jalanan tertutup debu, ada kalanya kami dapat melihat jalanan dengan lebih leluasa.



Jalan Berdebu
(techgue.com)



          Memasuki wilayah Muntilan, suasana mulai berbeda. Yang terlihat di kanan kiri jalan hanya gundukan pasir akibat letusan Merapi yang membawa material pasir, debu dan kerikil. Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan terlihat putih kehitam-hitaman yang disebabkan tebalnya abu vulkanik, bahkan banyak rumah-rumah yang yang roboh karena tidak kuat menanggung beratnya pasir dan kerikil yang sudah menjadi lempung dan mengeras.



          Daerah-daerah yang beberapa bulan lalu aku lewati berupa lahan persawahan, sekarang telah berubah menjadi tanah lapang. Tidak hanya satu atau dua petak, tapi seluruhnya! Yang tertinggal diatasnya hanya pohon-pohon kelapa yang tetap menjulang, meski tak sehijau dulu dan sekilas bak payung usang yang sudah rusak jari-jari penyangganya. Jalanan yang kami lewati pun tertutup debu vulkanik setebal 5 cm. Setelah terguyur hujan beberapa hari sebelumnya, debu itu menjadi lumpur dan tidak bisa dilewati lagi. Jalan yang lebarnya sekitar 25 m hanya menyisakan 12 cm saja untuk dilalui kendaraan bermotor dan mobil-mobil, mirip seperti jalan setapak sewaktu pendakian. Akupun harus berjibaku dengan pengendara motor lain supaya mendapat jalan. Tidak jarang pengendara mobil salip-menyalip secara tiba-tiba, hingga orang dibelakangnya kaget dan hampir terpeleset di jalan.

     Aku sempat berhenti sesaat di pinggir jalan untuk mempotret Gunung Merapi yang mengeluarkan asap tebal di kejauhan. Tidak jauh dari tempat aku berhenti, terdapat kantor kecamatan yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Terlihat anak-anak kecil bermain tanpa tahu apa yang terjadi disekitarnya. Sebagian dari mereka disuruh menyingkir karena truk bantuan logistik datang ke tempat itu untuk membagikan sedikit makanan untuk para korban. Sesaat kemudian, para relawan keluar untuk segera membagi ransum bagi pengungsi. Terlihat hitam legam pada wajah mereka mungkin karena kelelahan, namun wajah ceria mereka tetap mengiringi. Para pengungsi berbondong-bondong mengantri di belakang truk untuk mendapatkan jatah mereka.



Nyiurnya tak Lagi Melambai
(kangbison.wordpress.com)


          Perjalanan pun aku lanjutkan, karena hari semakin panas. Semakin menjauh dari Merapi, semakin sedikit terlihat dampaknya. Akan tetapi sepanjang jalan yang aku lalui, masih terlihat jelas apa yang baru saja aku lihat dan aku mulai merenung. Kita manusia yang selama ini merasa besar karena menguasai teknologi dan memiliki peradaban tinggi seketika menjadi kecil dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan kekuatan alam. Dataran yang dulunya indah dengan persawahan dan nyiurnya, seketika berubah ketika alam menunjukkan jati dirinya pada kita. Tapi mengapa kita masih saja menyombongkan diri dengan berusaha mengendalikan alam dan berusaha menundukkannya? Padahal seharusnya menjaga keharmonisan di antara keduanya. Hal ini mungkin sedikit menjadi pembelajaran bagi kita untuk saling mendamaikan antara ekosistem alam dan peradaban manusia yang hidup di atasnya.


Yogyakarta menuju Semarang, Desember 2010